Sejarah

Deklarasi Berdirinya KEJOGJA Kalsel, 1 Agustus 2016

Bermula dari obrolan angkringan dan bakmi Jogja, beberapa orang perantau asal DIY diantaranya Ermanto DA (Psikolog), Suharyanto (Pekerja Media), Rina Eko (EO), Wira Adi (Praktisi Bursa Efek), Wawan Wicaksono (Percetakan), Edy Santosa (ASN) menggagas berdirinya paguyuban yang mewadahi perantau asal Daerah Istimewa Yogyakarta. Gayung bersambut, ide ini didukung diaspora DIY lainnya akhirnya bersepakat untuk mendirikan Kempalan Keluarga Jogja Kalimantan Selatan yang disingkat menjadi KEJOGJA Kalsel.

Proses berdirinya KEJOGJA Kalsel memang tidak singkat, bahkan sudah diinisiasi sejak tahun 2010.  Sempat pasang surut semangat, akhirnya enam tahun kemudian baru terbentuk KEJOGJA, tepatnya dideklarasikan pada tanggal 1 Agustus 2016 bertempat di salah satu ruang meeting Hotel Aston Banua Kabupaten Banjar. Deklarasi KEJOGJA Kalsel berbarengan dengan acara Halal Bihalal warga DIY di Kalimantan Selatan kala itu.

Cikal-bakal KEJOGJA, Suatu Ketika (2010) di Angkringan Kolam Renang Banjarbaru
Cikal-bakal KEJOGJA, Pertemuan di Kota Banjarmasin

Terpilih sebagai Ketua periode 2016-2018 adalah Ermanto Dwi Atmoko. Periode awal merupakan saat-saat perjuangan membesarkan organisasi dan konsolidasi internal. Hal ini dilakukan untuk memperkuat organisasi, salah satunya dengan membentuk organ-organ KEJOGJA berupa Korwil (Koordinator Wilayah). Korwil inilah nantinya yang diharapkan menjadi tulang punggung kegiatan  dan kiprah KEJOGJA di masyarakat, mengingat wilayah Kalimantan Selatan yang cukup luas. Kalsel yang terdiri dari 13 kabupaten/kota tentu memerlukan energi yang besar untuk menyatukan dalam sebuah kegiatan. Itulah kenapa KEJOGJA sangat mengandalkan Korwil untuk mengadakan kegiatan, tentu disamping kegiatan yang dikoordinir DPP (Dewan Pimpinan Pusat) yang berada di Kota Banjarmasin.

Sejak saat itu KEJOGJA mulai eksis  dengan kegiatan-kegiatannya. Bentuk kegiatan KEJOGJA merupakan kegiatan sosial kemasyarakatan dengan berpegang semboyan guyub, gayeng lan migunani. Selain nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta baik dalam hal kesenian, budaya maupun kuliner, KEJOGJA juga ingin berkontribusi dan berperan aktif dalam pembangunan di Kalimantan Selatan. Oleh karena itu hubungan dengan kepala daerah di Kalimantan Selatan mulai dijalin, pun demikian dengan organisasi atau paguyuban lainnya

Sebagai organisasi yang ingin menjembatani kerja sama antara kedua daerah (DIY dan Kalsel) tentu harus mengenal dan dikenal oleh semua stakeholder. Untuk itu KEJOGJA juga secara intens proaktif mencari info kunjungan atau kerja sama yang sudah terjalin antara dua daerah tersebut.

Pertemuan atau kempalan yang diadakan biasanya bertemakan nostalgia kuliner Jogja seperti gudeg, brongkos, mangut lele, tiwul  dan sebagainya. Pertemuan besar atau kami sebut Kempalan Ageng diadakan satu kali setahun. Sedangkan kempalan-kempalan lain diadakan oleh masing-masing korwil. Pada tahun pertama ini berhasil diinisiasi terbentuknya Korwil Banjarmasin – Barito Kuala, Banjarbaru – Banjar – Tanah Laut, Banua Enam dan Tabalong. Jumlah korwil akan terus berkembang sesuai dengan bertambahkan jumlah anggota di masing-masing kabupaten, contohnya Tabalong kini sudah menjadi Korwil tersendiri, terpisah dari Banua Enam.